Suatu pagi yang cerah, matahari masih malu-malu untuk menampakkan
dirinya, embun pagi yang membasahi daun-daun yang hijau, burung-burung
bernyanyi mengalunkan kicauannya. Hari
ini aku terbangun dari tidurku yang
panjang dengan semangat. Ada yang tau
mengapa aku semangat? Aku semangat karena hari ini ulang tahunku yang
ke-15. Aku tak sabar mendengar
orang-orang yang aku sayangi mengucapkan “selamat ulang tahun” kepadaku. “Pagi dunia, aku Zea, aku cantik, aku sehat,
aku beruntung karena masih banyak orang yang cinta sama aku, aku selalu dekat
dengan alloh, dan selamat ulang tahun ke-15 Andrea Kikanzea Moscha” teriakku
sambil melemparkan selimut.
Aku pun langsung mengambil air wudhu
dan melaksanakan sholat shubuh. Dalam
sela-sela sholatku, aku berdo’a dalam hati “Ya Alloh, hari ini umurku
berkurang, aku bersyukur sampai saat ini aku masih diberi napas untuk menikmati
indahnya dunia, tapi aku tak tau lagi sampai kapan aku akan bertahan hidup. Oleh karena itu, aku mohon disisa-sisa
hidupku, hidupku ini bisa lebih bermanfaat untuk orang lain terutama untuk
orang-orang yang aku sayangi dan aku cintai.
Aku tak sampai hati membuat mereka bersedih apalagi kecewa karnaku. Aku ingin membuat mereka bangga dan selalu
tersenyum. Dan lindungilah selalu
mereka, dimana mereka berada, ya alloh, amin”.
Tak terasa air mataku jatuh membasahi mukena yang ku pakai.
Selesai sholat, aku pun mandi, dan memasukkan buku pelajaran untuk
hari ini ke dalam tas. Aku tak sabar
keluar kamar untuk mendengar dua malaikat yang selalu setia menjagaku dari
kecil hingga sampai saat ini yaitu ayah dan ibu menyambutku dengan ucapan
“selamat ulang tahun anakku Zea”.
“Ayo, Zea cepat makan sarapanmu” perintah ibu saat aku keluar dari
kamar. Kulihat ibu sedang sibuk mengurusi
adikku yang baru berumur dua tahun dan ayah
sedang sibuk membaca koran paginya.
Aku pun menuruti perintah ibu.
Saat makan, aku bertanya-tanya dalam hati, “apakah tak ada ucapan ulang
tahun dari ibu? apa ibu lupa? ayah juga? tak ada ucapan dari ayah? tak mungkin
mereka lupa, aku sudah mengingatkan mereka kemarin, bahkan mereka berjanji tak
akan melupakan hari yang spesial buatku ini”.
“Zea, kok malah melamun, cepat habiskan makananmu, nak” suara ibu
mengagetkanku. Lalu, aku pun langsung
menghabiskan sarapan pagiku, dan pergi sekolah.
Tak lupa aku mencium punggung tangan ayah dan ibu sambil mengucapkan
salam. Saat itu, aku tak mendengar sama
sekali salah satu dari mereka atau kedua-duanya mengucapkan “selamat ulang
tahun” kepadaku. “mereka benar-benar lupa” batinku. Ingin sekali aku menangis tapi ku tahan. “walaupun
ibu ayah lupa, tapi kuharap teman-temanku mengucapkan “selamat ulang
tahun” untukku” pikirku untuk menghibur hati.
Sesampainya di sekolah, aku berlari-lari kecil menuju kelasku yang
berada di lantai 2. Aku sudah tak sabar
masuk kelas. Aku yakin saat aku datang nanti teman-temanku menyambutku dengan
ucapan “selamat ulang tahun Zea”. Aku
pun jadi senyum-senyum sendiri karena kepercayaan diriku itu.
Tak terasa, kakiku sudah membawa diriku ini di depan kelas. Ku buka pelan-pelan pintu kelas, sehingga
tidak menimbulkan bunyi. Bagaikan ditampar beribu-ribu kali. Kenyataan pahit ini harusku telan
bulat-bulat. Ku lihat teman-temanku
sedang asyik mengobrol. Tak ada satupun
dari mereka yang menyadari kehadiranku, walaupun aku sudah mengucapkan salam. Dengan penuh rasa sedih yang menggebu-gebu,
ku langkah kaki ini memasuki kelas, dan aku pun langsung duduk di kursiku
sambil menghela napas. “Eh, ada Zea,
kapan kamu datang?, kok aku gak lihat ya” Senny mengagetkanku dengan sapaannya
itu. “astagfirulloh, Senny, bikin kaget
aja, salam-salam kek, iya memang aku baru saja datang, mungkin tadi saat aku
masuk, kamu tak melihatku” aku menjawab sapaan Senny dengan tak bergairah. “assalammualaikum, aku minta maaf ya ze,
owalah, mungkin kali ya, eh, Ze kau lagi kedatangan tamu dari cibereum ya,
mukanya ditekuk begitu?” Senny seakan-akan bisa membaca bahasa tubuhku. “waalaikumsalam, gak apa-apa kok, cuma
sedikit kurang begitu semangat saja, eh Sen, tau gak hari ini hari apa?” aku
harap Senny peka. “ehmm, sekarang? hari
apa? Ya hari Jum’at lah, plissdeh Ze, kamu ini konyol banget sih, pagi-pagi
nanya begituan, cape dehhh” jawab Senny, sepertinya ia tak peka. Aku terdiam, aku tak bisa berkata apa-apa
lagi. Tiba-tiba aku melihat Tika yang
sedang sendiri, kucoba mendekatinya, dan bertanya “Hei, Tik, kamu tau gak hari
ini hari apasih?” ku harap Tika menjawab pertanyaanku sesuai dengan apa yang ku
harapkan. “He to the lo, helo Zea,
sekarang hari Jum’at gituloh, makan apasih sampai lupa sekarang hari apa?”
jawab Tika dengan gayanya yang lebay. “Oh, iya, sekarang Jum’at, engga makan
apa-apa kok, aku tetap makan nasi” kataku sambil berlalu saking sedihnya. “ya
Alloh, ternyata teman terdekatku juga lupa hari ulang tahunku, padahal kemarin
aku sudah berteriak-teriak mengingatkan ulang tahunku yang ke-15 ini” batinku. Sakit
sekali rasanya menerima kenyataan bahwa orang-orang yang aku cintai lupa ulang
tahun ku. Ku tahan air mataku yang sudah
berkumpul di ujung kelopak ini untuk tidak keluar. Berkali-kali kuucapkan istigfar untuk
menenangkan hati yang sedih ini. “Ze,
jangan ngelamun, tuh udah ada guru” Jordi membuyarkan pikiranku. “Iya, Di” sahutku singkat.
Guru
demi guru sudah menerangkan mata pelajarannya masing-masing. Namun, tak ada satupun yang bisa kupahami. Aku tak bisa fokus. Daritadi aku memikirkan, “mengapa tak ada
orang yang ingat dengan ulang tahunku, bahkan ayah ibuku juga lupa akan hari
ulang tahun ku, aku gak bisa terima kenyataan ini, apa salahku? sehingga mereka
semua melakukan ini kepadaku, astagfirulloh”.
Bel pulang berbunyi.
Kulangkah kakiku dengan lunglai menuju rumah. Hari ini aku menjadi anak yang sangat pendiam
tidak seperti biasanya yang selalu ceria.
Aku sudah tak peduli lagi dengan apa yang ada disekitarku. Hatiku sudah begitu sedih dan kecewa mendapat
kenyataan bahwa tak ada satupun orang yang ingat dengan ulang tahunku.
Sesampainya dirumah, nampaknya tak ada orang di rumah. Rumah ini sepi. Tidak ada tanda-tanda ada orang di
dalam. Aku pun semakin sedih, seharusnya
di hari ulang tahunku, ibu dan ayah ada di rumah. Mereka pernah berjanji akan mentraktirku di
restoran Jepang. Tapi sepertinya mereka
juga lupa akan janji itu. Kubuka pintu
rumah sangat pelan sambil mengucapkan salam.
Dan “KEJUTAN!” ibu dan ayah mengagetkanku, mereka membawa kue tart cokelat yang di taburi
potongan cokelat dan strawberry. Dan tak
ku sangka ternyata teman-temanku juga hadir di rumahku. “Selamat ulang tahun Andrea Kikanzea Moscha
yang ke-15” serempak mereka memberiku ucapan.
“ku kira kalian lupa akan ulang tahunku?” ungkapku yang masih tak
percaya. “mana mungkin kami lupa dengan
ulang tahunmu nak, ini adalah rencana kami yaitu pura-pura lupa ulang tahunmu,
tapi sesungguhnya kami tak bermaksud membuat rencana seperti ini, kami hanya
ingin ulang tahunmu ini berkesan dan akan selalu kau kenang ketika kau besar
kelak” jawab ayah sambil mengelus rambutku.
“Iya, Zea, apa katamu ayahmu itu benar” Sahut Senny. “Makasih ayah ibu, dan teman-teman, ini
mungkin akan menjadi ulang tahun yang tak akan ku lupakan, dan akan ku simpan
di memoriku dengan baik, dan maafkan aku karena telah suudzhan kepada kalian” kataku
terbata-bata, dan air mataku pun turun, membasahi pipiku yang kemerah-merahan. Aku pun memeluk erat ayah dan ibu sambil
berucap “ayah ibu, aku cinta kalian karena Alloh, kalian segalanya untukku”,
mereka pun membalas pelukkanku, dan mencium keningku. Setelah itu, aku memotong kue tartku, dan
kuberikan kue potongan pertama kepada orang tuaku. Dan potongan-potongan kue selanjutnya ku
berikan kepada teman-temanku, mereka pun menyalami ku sambil mengucapkan
“selamat ulang tahun”. Aku pun membalas
ucapan mereka, dengan berterimakasih. Betapa
yang awalnya pahit akhirnya berubah menjadi manis. Aku sangat bahagia hari ini. “Terimakasih
Alloh” teriakku kegirangan.
.jpg)